| by eddye | No comments

Jangan Sampai Anak Terserang Sindrom Mata Kering Tanpa Menyediakan Insto Dry Eyes

Sepasang bola mata kita mendapat perlindungan dari tear film atau air mata. Tear film ini adalah pertahanan pertama untuk menjaga permukaan bola mata agar tidak terkena debu maupun bakteri. Tear film berperan dalam menjaga permukaan bola mata agar lembap dan mencegah adanya gesekan antara permukaan kornea dan kelopak mata sewaktu berkedip. Permasalahan sindrom mata kering belakangan ini muncul dan masyarakat Indonesia harus waspada.

Dry eyes syndrome atau sindrom mata mengering merupakan kondisi tear film tidak stabil dalam kualitas dan kuantitas untuk menjaga permukaan mata. Produksi air mata menurun atau mudah menguap menyebabkan jumlah air mata berkurang. Konsekuensi dari masalah ini adalah mata sepet, iritasi ringan, hingga timbul pelekatan, serta adanya jaringan partu di permukaan mata.

Sindrom mata mengering bukanlah kondisi yang jarang diidam oleh masyarakat. Sudah banyak pasien yang mengeluhkan dan berobat ke dokter spesialis karena kondisi ini. Di Amerika Serikat saja, sebesar 50% dari penduduk berusia 18 tahun ke atas sudah mengalami gejala ini. Begitu juga dengan Indonesia, sebanyak 30,6% penduduk, baik muda maupun tua, sudah merasakan ketidaknyamanan mata mengering. Gejala ini memicu mata pegel, mata kemerahan, bahkan membuat mata mudah lelah.

Gejala yang acap dialami oleh penderita mata mengering, antara lain:

  • Mata terasa gatal dan kering.
  • Mata lelah.
  • Sensasi perih dan nyeri pada mata.
  • Mata mudah merah dan terasa pedas.
  • Mata sering berair ataupun sering mengeluarkan kotoran.
  • Ketika Anda bangun tidur, kelopak mata lengket dan agak sulit dibuka.
  • Mata sangat sensitif terhadap cahaya atau disebut photophopbia.
  • Selama melihat sebuah objek, mendadak kabur atau kehilangan fokus sesudah berkedip.

Kami merasa bahwa kondisi ini cukup aneh, namun permukaan mata yang iritasi dan kuantitas air mata berkurang memicu air mata memproduksi lebih banyak. Kondisi ini disebut sebagai air mata “palsu” karena sifatnya adalah mengatasi mata yang mengering. Namun, air mata “palsu” ini kandungan minyak, lendir, dan air tidaklah seimbang.

Permasalahan mata mengering memang bukan berita baru. Namun, menjadi kabar yang mengagetkan ketika anak berusia 8 tahun sudah terjangkit sindrom ini. Jika ditelusuri, gejala mata mengering acap menyerang lansia berusia di atas 50 tahun. Permasalahan pada lansia tentu lebih mudah disimpulkan karena makin bertambah usia, makin minim kelenjar menghasilkan air mata. Lantas, kenapa anak seusia 8 tahun sudah merasakan gejala ini?

Faktor utama anak usia 8 tahun mengidap mata mengering adalah penggunaan perangkat elektronik tanpa kenal waktu. Jika Anda sudah memiliki buah hati dan memberikan perangkat gawai agar mereka tidak rewel, sebaiknya pikir ulang tindakan itu. Sebenarnya tidak masalah anak-anak menggunakan gawai, tapi dalam batas waktu tertentu. Usia 8 tahun adalah usia penting dalam masa pertumbuhan, baik tubuh maupun mata. Apabila menggunakan alat elektronik seperti gawai tanpa mengontrol waktu, dikhawatirkan indera penglihatan mereka terganggu sejak usia dini. Jika sudah begitu, perkembangannya akan terganggu dan memungkinkan mereka mengenakan kacamata sejak kecil.

Setidaknya pencegahan lebih baik dibandingkan pengobatan. Anda bisa membatasi penggunaan gawai dengan mengajak buah hati bermain. Setidaknya ajak mereka bermain di luar ruangan di tempat yang teduh, seperti di bawah pohon. Andaikan gejala mata mengering menyerang orang dewasa, pencegahan bisa dilakukan melalui penggunaan obat tetes mata Insto Dry Eyes.

Leave a Reply